Tradisi dhandhangan merupakan tradisi keagamaan sekaligus budaya yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat kudus, baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Tradisi dhandhangan sudah terkenal di jawa tengah. Yang dilaksanakan sejak abad ke 16. Kabupaten kudus memang menjadi daerah yang unik pada waktu kepemimpinan syech jafar shodiq (sunan kudus), beliau berlatar belakang seorang pemimpin tertinggi soal agama, sekaligus pernah menjabat sebagai imam masjid agung ke 5 atau terakhir di kerajaan islam demak artinya adalah beliau sangat disegani dan diakui dalam hal penguasaan ilmu agama khususnya fiqih, mengenai penetapan bulan kalau kita sekarang mengenal istilah ilmu astronomi di islam itu dikenal dengan istilah falaq. Dimana falaq itu adalah salah satu cabang dari ilmu fiqih sehingga dengan demikian maka sunan kudus yang menguasai falaq dan fiqih tentu akan sangat mengerti dan sangat ahli untuk mengetahui masalah kapan tanggal 1 ramadhan. Untuk tradisi keilmuan falaq dan fiqih secara umum itu terus berlanjut dari abad 16, pada waktu itu sunan kudus masih memimpin. Setelah sunan kudus wafat 1550 M tradisi dhandhangan tetap dilakukan penerusnya dari tahun ke tahun sampai dengan sekarang.

Untuk Asal kata dari dhandhangan itu diambil dari suara bedug yang ditabuh dan berbunyi dang… dang… dang… akhirnya tradisi penentuan 1 Ramadhan disebut sebagai tradisi dandangan yang merupakan acara pengumuman dari sunan kudus kepada masyarakat tentang kapan jatuhnya bulan suci ramadhan, biasanya penabuhan bedug itu dilakukan setelah sholat ashar yang mana setelah sholat ashar tersebut penabuhan bedug yang bertujuan untuk mengumpulkan masyarakat, setelah masyarakat berkumpul barulah diberikan pengumuman tentang penetapan tanggal 1 Ramadhan.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here